Lilypie Kids birthday PicLilypie Kids birthday Ticker

Friday, December 19, 2008

Women without love

Bosan liat alarm status, retrive status, pokoknya yg berhubungan kerjaan, akhirnya kuputuskan membaca cerpen yg ditulis oleh Rina Anindyta, gini ceritanya ......

“Tidak bisakah kau di rumah saja?”

Aku terkejut, lalu menoleh ke arah Ben yang masih berbaring di tempat tidur.
“Maksudmu apa?” tanyaku perlahan.
Dia memutar badan membelakangiku.
“Kau tidak perlu bekerja. Aku ingin kau menemaniku sepanjang weekend ini,” ujarnya.
Aku beranjak dari depan meja rias, duduk di samping Ben.
“Kita sudah pernah membahasnya kan?” ujarku sambil membelai rambutnya.
Dia diam.
“Kita sepakat, pekerjaan adalah bagian dari urusan pribadi yang tidak dapat diganggu gugat kan?” lanjutku masih dengan nada suara yang kubuat selembut mungkin agar Ben tidak tersinggung.
Dia tetap diam.
Kukecup rambutnya dengan lembut.
“Sudah kubuatkan sarapan, jangan lupa susunya dihabiskan ya..” bisikku di telinganya.
Dia mengambil bantal dan menutup kepalanya.
Aku meraih tas lalu keluar dari kamar.

**

“Istriku jarang mau kuajak bercinta, alasannya selalu sama, capek seharian mengurus rumah dan anak-anak. Padahal kami bertemu hanya sebulan dua kali. Untung aku sayang pada anak-anak. Kalau saja tidak ada mereka, mungkin sudah kutinggalkan ibunya,” ujarnya dengan tatapan menerawang.
Aku mendengarkan.
“Lalu aku harus bagaimana? Membayar perempuan lain untuk tidur denganku? Mm… meminta hak ku saja susahnya bukan main, padahal kewajibanku saja tak pernah kulalaikan.”
Aku terus mendengarkan.
“Seorang teman pernah menyarankan aku untuk nikah lagi. Nikah siri. Katanya, paling tidak kebutuhan seksku dapat tersalurkan dengan baik, dan yang penting halal. Jelas aku tolak mentah-mentah. Kalau keluargaku tahu, mau bilang apa aku?”
Aku menyelipkan sebatang rokok putih di bibirku. Dia mengambil pemantik dan menyulutkan api pada rokokku.
“Kau tahu, sebetulnya aku butuh bukan hanya seks. Tapi aku butuh seorang istri. Yang dapat mengurusku dan anak-anak dengan kerelaan hati. Yang dapat memberiku semangat dalam bekerja. Dan yang dapat menemaniku disaat suka dan duka. Apa aku terlalu berlebihan? Istriku tidak pernah mendampingiku dengan alasan tidak betah tinggal di Jakarta. Tapi aku malas bertengkar dengannya, kasihan anak-anak masih terlalu kecil untuk mendengarkan.”
Aku menyeruput coffee latte.
“Aku butuh perhatian, butuh kasih sayang.”
Aku tetap mendengarkan.
“Aku rasa, wajar saja jika cintaku padanya mulai terkikis…”
Aku mendengarkan semua yang Ben katakan, enam bulan yang lalu.

**

Baru selangkah masuk rumah, Ben sudah menghadangku dengan pandangan yang tajam.
“Hai…kok belum tidur?” sapaku. Sudah jam 2 malam.
Plak! Dia menamparku.
Sambil memegang pipi aku menatapnya dalam-dalam.
“Tolong jelaskan…” kataku setengah berbisik.
“Keluar dari pekerjaanmu sekarang juga, atau …..” lalu dia terdiam.
“Atau apa?”
Dia membalikkan badan, lalu menghantamkan kepalan tangannya ke dinding.
Aku meletakkan tas di sofa. Lalu mengambil air es untuk mengompres pipiku. Sakitnya sebenarnya tidak seberapa, tapi tamparannya yang membuatku terkejut.
Ini kali kedua Ben menyuruhku untuk keluar dari pekerjaanku. Tapi sebelumnya tanpa ditambahi tamparan.
“Sebelumnya tidak pernah ada laki-laki yang menamparku,” ujarku.
“Karena mereka semua laki-laki bajingan yang tidak punya hati,” ujarnya pelan menahan kesal.
“Maksudmu, bapakku juga laki-laki bajingan?” aku mendekatinya.
“Ya. Mana ada bapak yang membiarkan anak perempuannya menjadi pelacur, kalau bukan bapak yang tidak punya hati!” dia menatapku tajam.
Hampir saja mangkuk berisi air es ditanganku melayang ke wajahnya. Aku segera mengatur nafas. Beruntung urat emosi ku sudah kuputuskan sejak pertama aku menjalani pekerjaan ini.
“Lalu kamu laki-laki apa?” tanyaku dengan nada suara tetap rendah.
Dia membuang muka.
“Oh aku tahu…. Kamu laki-laki suci yang datang padaku memohon kasih sayang karena tidak mendapatkan dari sang istri. Dan aku perempuan yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu itu. Lalu sekarang kamu menyuruhku untuk meninggalkan pekerjaanku karena kamu ingin aku hanya menemanimu saja. Begitu kan Ben?”
Dia diam. Akupun terdiam sesaat.
“Ben ….” aku menyentuh bahunya.
Dia tetap diam.
“Kamu pasti masih ingat. Dari awal aku sudah bilang, jangan main hati denganku. Nanti akan begini jadinya. Memberikan perhatian adalah bagian dari pekerjaanku, dan aku menikmatinya,” aku memperlembut suaraku.
“Memberikan kasih sayang juga bagian dari pekerjaanmu?” tanyanya sambil membuang pandangan ke luar rumah.
Aku tersenyum.
“Itu bonus. Hanya orang yang kuinginkan saja yang mendapatkannya, termasuk kamu,” ujarku.
Dia membalikkan badannya.
“Setelah apa yang kau lakukan untukku, tidak bisa jika aku tidak main hati. Aku mencintaimu, Monik.”
Aku tertawa pelan.
“Tidak..tidak, kamu salah, Ben. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin aku menemanimu. Aku ini hanya pelarianmu karena istrimu tidak memberikan apa yang kamu butuhkan,” kataku.
“Harus bagaimana lagi sih aku menjelaskan perasaanku padamu?” dia menatapku.
“Tidak perlu dijelaskan, aku pergi dulu,” aku meraih tasku.
“Kau mau kemana?”
“Pulang tentu saja, tugasku sudah selesai,” kataku.
“Jangan tinggalkan aku..”
“Kalian pergilah konsultasi, masih ada waktu untuk memperbaiki. Demi anak-anak.” 
Aku membuka pintu.
“Apa aku masih bisa menjadi bagian dari pekerjaanmu?” suaranya parau.
Tanpa membalikkan badan aku menggeleng.
“Peraturannya tetap sama, Ben. Tidak boleh main hati,” ujarku datar.
Kudengar Ben kembali menghantamkan kepalan tangannya ke dinding sebelum kutinggalkan.

“Dick, aku berikan free untuk Ben dua hari ini.”
“Ok, sekarang kamu dimana?” tanya suara dari telpon selularku.
“Pulang. Aku mau libur seminggu..”
“Nggak masalah.”
“Kalau Ben telpon, tolong jangan kasih aku lagi. Kasih saja ke Bianca atau Dina.”
“Bisa kuatur…”
Klik.
Maaf, Ben. Aku sudah tidak punya cinta lagi. Untukmu atau laki-laki manapun…

1 comment:

AdminBlog said...

hmmm..kenapa bisa milih cerita itu ? pernah mengalami ? ato kisah temanG ?

http://labacox.blogspot.com